Subscribe:

Rabu, 04 Februari 2009

Kaum Muslimin Indonesia Bersatulah;

Entah apa jadinya kalau tempat tinggal kita sekarang menjadi medan pertempuran seperti yang sedang terjadi di Palestina sekarang. Mungkin sebagian dari kita tidak bisa membayangkan hidup tanpa listrik, air, makanan serta tidak dapat kemana-mana atau terpenjara.

Hampir seperti itulah juga yang pernah penulis alami, kendati keadaannya tidak serupa dengan Palestina saat ini. Kala itu penulis dan keluarga dilanda ketakutan ketika gempa berkekuatan 6.8 skala richter menghantam kota kecil Padang Panjang, 6 Maret tahun 2007, perasaan berkecamuk, seperti di teror oleh guncangan demi guncangan yang terjadi selepas itu. Rasanya, tiada tempat yang bisa di jadikan tempat perlindungan, bahkan berada di atas tanah lapang yang luas pun seolah seperti bumi siap menelan kita, dan itu berlangsung hingga beberapa hari. Satu hal yang sangat berbekas, karena walaupun penulis lahir dan tumbuh di kota ini, belum pernah mengalami gempa yang begitu dahsyatnya. Boleh jadi, beginilah keadaan yang tengah dirasakan anak anak di Gaza, Palestina sekarang, bahkan lebih dari itu. Diteror oleh dentuman bom-bom terlarang (Phosphor) yang membabi buta, meluluh lantakan tempat mereka bermain, sekolah, pasar dan masjid. Terpojok oleh tank-tank Merkava dan Abram yang menghancurkan rumah rumah mereka. Ketika helicopter tempur Apache melepaskan rudal rudal pencari panas kepada orangtua mereka. Kemana mereka akan lari dalam keadaan demikian, ketika akhirnya tubuh-tubuh mungil itu pun terbujur kaku di balik tempat tidur reruntuhan kamar tidur mereka sendiri.

Seandainya tanah air kita yang diserang seperti ini, sanggupkah kita bertahan? Bahkan melawan? beranikah? Mampukah kita berhadapan dengan peralatan super canggih mereka? Apa yang kita punya?

Persiapkanlah diri kita, tingkatkanlah kemampuan kita jika tidak ingin terjajah, jika ingin membantu sesama muslim. Walaupun saat ini kita sesungguhnya tengah sangat terjajah dalam ekonomi oleh kapitalisme bangsa-bangsa maju, tapi belum terlambat, perkuatlah ekonomi berbasis keislaman atau ekonomi syariah. Jauhi riba. Ciptakan persaudaraan muslim, janganlah terpecah belah. Umat islam akan selamat jika ia bersatu dalam satu tali yang kuat, yaitu berpeganglah pada Sumpah Pencipta mereka yang senantiasa terjaga (Al-Quran). Pada petunjuk-petunjuk sahih sang pembawa kebenaran (Hadits Rasulullah SAW). Sungguh tidak ada keraguan didalamnya. Carilah ilmu-ilmu yang dulu telah terengut dari para ilmuan Islam, pelajarilah, didiklah anak-anak kita dengan aqidah yang benar. Jangan lenakan mereka dengan hiburan dan foya-foya. Yakinkan para orang tua kita agar jangan mudah terperdaya oleh politik politik praktis yang berkembang. Rapatkan barisan. Perdalam ilmu ilmu yang kita miliki. Jauhilah rasa malas, karena memang kita sudah tak ada waktu lagi untuk itu. Kelak, secepatnya, kita atau generasi berikutnya akan merasakan, apa yang tengah dirasakan oleh anak anak Palestina saat ini, serta propaganda dan fitnah-fitnah lain yang segera menyusul. Ingatlah kehidupan dunia ini adalah ujian yang harus kita tempuh dengan sebaik-baiknya, sebelum akhirnya, tujuan terakhir dan terdekat segera menghampir. Dan Akhirat jualah tempat kembali sebaik-baiknya. Wallahu’allam. 08 Muharram 1430 H, hari ke-11 penyerangan Israel ke Gaza, Palestina.


1 komentar:

Rainbow Smile mengatakan...

Selamat datang di blog saya, maaf masih banyak kekurangan sana-sini. Pertama buat blog nih, pls Advice. Thank You.

Posting Komentar