Subscribe:

Rabu, 22 April 2009

Menlu Israel: AS Akan Tunduk Dengan Kemauan Israel


Menlu Israel Avigdor Lieberman dengan pongah mengatakan bahwa Israel punya pengaruh yang tak tergoyahkan terhadap Gedung Putih dan inisiatif-inisiatif perdamaian yang melibatkan Israel.

Dalam wawancara pertamanya sejak menjabat sebagai Menlu, Lieberman mengibaratkan AS sebagai "anjing kecil piaraan" yang akan mematuhi semua perintah majikannya. Lieberman mengatakan bahwa pemerintahan AS yang dipimpin Presiden Barack Obama akan mengajukan inisiatif perdamaian baru, hanya jika Israel menginginkannya.

"Percayalah pada saya, Amerika akan menerima semua keputusan kami (Israel)," kata Lieberman dalam wawancara dengan surat kabar Rusia, Moskovskiy Komosolets.

Menlu Israel itu juga menyebut solusi dua negara sebagai "slogan yang manis tapi tidak bersubstansi". Lieberman, Yahudi keturunan Rusia ini sejak awal menolak berdamai dengan Palestina. Beberapa hari setelah diangkat menjadi Menlu, Lieberman menyatakan tidak mau menerima kesepakatan Annapolis antara Israel-Palestina, yang digagas AS pada tahun 2007. Lieberman menilai kesepakatan itu tidak menguntungkan kepentingan Israel. Pernyataan Lieberman itu menuai kritik dari berbagai negara di dunia, termasuk di Israel sendiri.

Meski Lieberman mengklaim bahwa Israel bisa mempengaruhi kebijakan-kebijakan AS. Pernyataan yang bertolak belakang disampaikan Kepala Intelejen Militer Israel, Amos Yadlin. Menurutnya, pemerintahan Obama sudah bertekad untuk berinisiatif dan melanjutkan proses perdamaian di Timur Tengah.

"Niat Obama adalah, meningkatkan proses perdamaian ke arah dialog yang lebih realistis dengan semua pihak, termasuk dengan elemen-elemen ekstrimis," ujar Yadlin.

Sikap Obama itu, dianggap membahayakan posisi Israel, sehigga dibahas khusus dalam rapat kabinet Israel hari Selasa kemarin yang juga dihadiri Yadlin. (ln/prtv)

reposted from : eramuslim.com

Rachael Corrie and Tom Humdall

El-Sayyid Habib: Israel Entitas yang Rasis dan Penjajah

Israel, AS, Canada, Australia, Belanda, Jerman, Itali, Perancis, Polandia, dan beberapa negara lainnya, terang-terangan memboikot Konferensi Anti Rasisme, yang berlangsung di Jenewa, Austria. Tindakan Israel dan sekutu mereka, yang terang-terangan menentang konferensi itu, karena konferensi itu mengkritik segala tindakan Israel, yang sangat kejam dan brutal terhadap rakyat Palestina selama berpuluh tahun.

Bahkan, akibat kekejaman yang dilakukan oleh rejim Zionis-Israel itu, kalangan gerakan diberbagai negara menjuluki Zionis-Israel sebagai wujud atau bentuk Nazi (Hitler) abad ini, yang dengan segala kekejaman, kebiadaban, serta kebrutalannya, yang terus berlangsung sampai hari ini. Di Israel sekarang berlangsung peringatan tentang terjadinya ‘Holocaust’, sebuah peristiwa yang terjadi di zaman Nazi, di mana orang-orang Yahudi dimasukkan kamp konsentrasi, kemudian di bantai oleh Nazi. Dan, praktek kekejaman Nazi itu, sekarang dipraktekkan secara t elanjang oleh Zionis-Israel terhadap rakyat yang tidak berdosa di Palestina dan Arab.

Wakil Mursyid ‘Aam IKhwanul Muslimin, Dr.Mohammad El-Sayyid Habib, memberikan komentar terhadap Konferensi Anti Rasisme yang berlangsung di Jenewa, dan diboikot oleh Israel serta negara Barat itu. Habibi menyatakan, bahwa sesungguhnya Zionis-Israel, tak lain adalah sebuah entitas yang sangat rasis dan penjajah. Watak atau karakter bangsa Yahudi,yang sekarang membentuk negara di tanah Palestina, dan merupakan hasil rampasan dari rakyat Palestina itu, benar-benar penjajah, yang sekarang mendapatkan perlindungan dan dukungan dari negara-negara Barat, khususnya AS.

Bukti paling nyata atas sikap rasis Israel adalah praktik-praktik politik penjajahan, pencaplokan tanah-tanah milik rakyat Palestina dengan menggunakan kekuatan militer secara biadab dan kejam, pembunuhan secara besar-besaran terhadap rakyat Palestina, pengusiran terhadap rakyat Palestina, pemenjaraan ribuan rakyat Palestina, penyiksaan terhadap rakyat Palestina, menolak kembali warga Palestina ke tanah air mereka, membiarkan pengungsi Palestina diaspora dan menjadi terlantar diberbagai negara, dan Zionis-Israel melakukan genoside terhadap rakyat Palestina di Gaza. ”Itulah catatan kejahatan Israel”, ujar Habib. Tapi, para pemimpin Barat masih menutup mata atas kejahatan yang dilakukan oleh Zionis-Israel, ungkap El-Sayyid Habib.

Menurut El-Sayyid Habib, bahwa di dalam Islam itu, tidak ada sikap rasisme, dan tidak ada perbedaan antara Arab dan non Arab, karena setiap individu mempunyai hak yang sama, dan mereka memiliki kesetaraan (equality) dalam hidup. Tidak ada rasa superioritas antara entitas satu dengan yang lainnya, mereka semua memiliki kesetaraan dan hak yang sama. Tidak orang kulit putih memiliki superioritas atas orang kulit hitam. Menurut Habib, Islam sangat lah menghormati setiap eksistensi mahluk atau manusia.

Selanjutnya, menurut El-Sayyid Habib, bahwa di dalam Islam setiap negara harus menghormati atas budaya, agama, toleran, dan nilai-nilai keadilan yang bersumber kepada Islam. Tidak ada hak sebuah negara memberlakukan secara kejam dan tidak adil atas negara lain atau penduduk di sebuah negara, seperti yang sekarang dijalankan oleh Israel, tegas El-Sayyid Habib. (m/Ikhwnwb)

sumber: Eramuslim.com